si pengamen
Sekian lamaaa…. aku menungguuuu… bla bla bla
Orang ini menyanyi dengan kencrengannya yang udah bulukan, di depan rumah kami. Suaranya sengau sengau tertahan sesuatu. Penampilannya, menyeramkan. Bajunya terusan, dari atas sampai bawah. Sudah mulai usang. Rambutnya awut-awutan pertanda sudah lama tidak dirawat. Seperti perempuan, tapi seperti laki-laki juga, sulit dideteksi. Daaannn…. Wajahnya sih putih, mengkilat, tapi hampir rataa. hiiii
Ya, dialah si pengamen bertopeng (bukan pahlawan bertopeng). Salah satu aliran, anak cabang, ranting, dari profesi artis, seniman. Satu induk dengan penyanyi yang sering kita lihat di televisi, dengar di radio. Bedanya, ia berkeliling dari rumah ke rumah, kampung ke kampung. Walau kedatangannya sering bikin anak-anak kecil itu pada lari atau menangis ketakutan. Pintu rumah orang yang terbuka, pertanda pintu rezekinya juga juga terbuka.
Tak perlu malu suara tidak seindah penyanyi di televisi. Indah itu relatif, yang di televisi juga belum tentu indah suaranya. Juga kebanyakan orang sudah pada tahu, ia penyanyi aliran mana (baca: aliran pengamen). Walau cabang, aliran, anak ranting, berbeda, visinya tetap sama: terus berusaha mencari rezeki halal dengan bermusik, nggak nganggur, nggak jadi sampah masyarakat.
Tak perlu malu punya wajah tidak se-mewah artis yang ada di televisi. Mewah itu relatif, artis yang di televisi juga belum tentu mewah wajahnya. Lagian kebanyakan orang sudah pada tahu, dia pemalu, dia kan pakai topeng, wajahnya mewah apa nggak, mana tau!
